Tugas PPKN 9/1/2024

 Kebangkitan Nasional dan Sumpah Pemuda

Pada masa penjajahan Belanda, kerja rodi dan tanam paksa menyengsarakan rakyat Indonesia.

Namun, ada beberapa politisi Belanda yang menyampaikan kritik, yaitu Baron Van Hoevel, Mr. C. T.

 Van Deventer, dan Edward Douwes Dekker (Multatuli). Mereka menegaskan bahwa Pemerintah 

Kerajaan Belanda bertanggung jawab atas kesengsaraan rakyat Indonesia dan Belanda harus 

memberikan balas jasa ke rakyat Indonesia. Kritik itu melahirkan kebijakan politik etis atau politik 

balas budi pada September 1901.


Politik etis meliputi tiga bidang utama yaitu pendidikan (akses pendidikan bagi bumi putra), pertanian 

(pembuatan saluran irigasi), kependudukan (transmigrasi penduduk). Alhasil dari akses pendidikan ini, 

lahirlah kaum terpelajar. Para kalangan terpelajar adalah salah satu bagian penting dalam 

membangkitkan kesadaran sebangsa dan setanah air kepada rakyat Indonesia.


Dari kalangan terpelajar muncul banyak organisasi pergerakan, seiring munculnya organisasi

 pergerakan muncul pula organisasi-organisasi kepemudaan. Pada mulanya organisasi-organisasi

 tersebut bersifat kedaerahan, namun lama kelamaan muncul kesadaran dari para tokoh terpelajar 

tentang pentingnya membangun persatuan dalam organisasi kepemudaan. 


Kesadaran ini diwujudkan nya digelarnya Kongres Pemuda I (30 April-2 Mei 1926) dan Kongres

 Pemuda II (27-28 Oktober 1928) di Batavia. Dari Kongres Pemuda II akhirnya lahirlah Sumpah

 Pemuda. Deklarasi Sumpah Pemuda disambut dengan pekik semangat para pemuda.

Sumpah Pemuda masih sangat relevan pada masa saat ini.

Postingan populer dari blog ini

Bahagianya Masuk SMAN 63